Minggu, 18 Oktober 2009

Yesus adalah Raja


Pendahuluan
Gelar Yesus sebagai raja adalah Gelar yang dikenakan kepada Yesus sejak awal dan juga dituliskan dalam keempat Injil, khususnya Injil Yohanes. Gereja merayakannya secara khusus pada hari minggu terakhir dalam tahun liturgi sekaligus menutup tahun liturgi tersebut. Perayaan itu dinamakan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam.
Injil Yohanes adalah salah satu dari keempat Injil yang menampilkan tokoh Yesus sebagai Raja. Pada dasarnya tidak banyak perbedaan antara gagasan “raja” dalam Injil Yohanes dibandingkan dengan ketiga Injil lainnya (Injil Sinoptik). Kisah pengadilan Yesus di hadapan Pilatus (Mat. 27:1-2, 11-14, Mrk. 15:1-5, Luk. 23:1-5, dan Yoh. 18:28-40) yang secara khusus membahas ke-raja-an Yesus tidak banyak berbeda di antara keempat Injil tersebut. Namun bila dilihat secara menyeluruh, Injil Yohanes menampilkan raja seperti apa Yesus itu. Ia menekankan Yesus sebagai Raja yang tegas, jaya, kuat, dan berkuasa . Ia juga secara lebih jelas memberikan gambaran Yesus sebagai raja yang bukan dari dunia ini . Kekhasan inilah yang membuat Injil Yohanes berbeda dari Injil Sinoptik ketika berbicara tentang Yesus sebagai raja.
Paper ini akan secara singkat membahas dua gagasan itu yang merupakan kekhasan Injil Yohanes dibandingkan dengan Injil Sinoptik menyangkut Yesus sebagai raja.
1. Yesus, Raja yang Jaya
Dalam Injil Yohanes, Yesus ditampilkan sebagai Putra Tunggal Allah yang menuju pemahkotaan-Nya . Ini berbeda dari Injil Sinoptik yang menampilkan sisi kelemahan Yesus yang berdoa di taman Getsemani dengan sikap pasrah, tak berdaya (Mat. 6:38-39, 42, Mrk.14:33-36, Luk.22:42-44). Yohanes menampilkan Yesus sebagai raja yang menguasai keadaan dan sudah mengetahui apa yang akan terjadi dengan dirinya dan siap untuk menerimanya (bdk. Yoh 18:4). Karenanya kedatangan Yesus ke sebuah taman di seberang sungai Kidron lebih merupakan suatu sikap menanti dan siap menghadapi peristiwa yang akan terjadi.daripada suatu kesempatan untuk meminta kekuatan dari Allah. Hal itu Dia simbolkan dengan minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Nya (Yoh. 18:11) .
Adegan lain yang memperlihatkan kemahakuasaan Yesus adalah jawaban Yesus kepada orang-orang yang datang hendak menangkapnya membuat mereka jatuh tersungkur di tanah (Bdk. Yoh.18:6). Ini adalah suatu bukti bahwa penangkapan Yesus tidak menunjukkan kelemahan Yesus. Malahan tampak jelas bahwa Yesus secara sukarela membiarkan dirinya ditangkap . Ia tetap berkuasa terhadap orang-orang yang datang menangkapnya.
Adegan Pengadilan Yesus di hadapan Pilatus juga diubah Yohanes. Dalam adegan itu Yohanes memperlihatkan Yesus yang begitu lancar berbicara dan sungguh yakin pada diri sendiri, sehingga agak sulit dikatakan bahwa Pilatus yang mengadili Yesus . Malahan tampaknya Pilatuslah yang diajukan ke pengadilan untuk diperiksa apakah ia berpihak ke kebenaran atau tidak. Situasi ini membalik posisi Yesus dan Pilatus: bukan lagi Yesus yang diadili tetapi sebaliknya, Pilatuslah yang diadili.
Hal yang lain yang mendukung adalah tidak dikisahkannya peristiwa Simon dari Kirene yang membantu Yesus membawa salib-Nya (Mat.27:32, Mrk.15:21, dan Luk.23:26). Yohanes memperlihatkan dengan jelas kedaulatan Kristus dan cukupnya satu tindakan bagi keselamatan .
Dalam Injil Yohanes juga diceritakan sedikit tentang acara pemakaman Yesus. Dalam Injil sinoptik tidak ada disinggung tentang upacara itu. Tetapi Injil Yohanes mengisahkan bahwa upacara penguburan yang dipakai untuk Yesus merupakan upacara pemakaman raja, orang kaya atau bangsawan (Yoh 19:39). Ini menunjukkan bahwa Yesus dimakamkan sebagai seorang raja .
Yesus sebagai raja yang jaya juga diperlihatkan Yohanes dengan tidak menampilkan peristiwa di salib di mana Yesus merasa ditinggalkan oleh Bapanya seperti yang dikisahkan dalam Injil Sinoptik. Sebaliknya, Yohanes memperlihatkan bahwa peristiwa di salib merupakan puncak pemuliaan dan peninggian diri Yesus . Kata-kata Yesus di atas kayu salib: sudah selesai (bdk. Yoh.19:30) (berbeda dari Injil Sinoptik) menunjukkan kepada kita bahwa Yesus menyerahkan diri-Nya untuk disalibkan merupakan bukti ketaatan Dia kepada Bapa untuk menjalankan misi yang diperintahkan kepada-Nya . Yesus berkata: “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali” (Yoh. 10:17). Yesus berkuasa atas nyawa-Nya.
2. Yesus, Raja yang bukan dari Dunia Ini
Secara umum semua Injil baik Injil Sinoptik maupun Injil Yohanes sendiri memaksudkan Yesus sebagai raja orang Yahudi. Ini nyata dari olok-olokan para serdadu (Mat. 27:29, Mrk. 15:19.18, Luk. 23:37, Yoh. 19:3), papan di kayu salib menyebut Yesus raja orang Yahudi (Mat. 27:37, Mrk. 15:26, Luk. 23:38, Yoh. 19:19-21), olok-olokan para pemimpin Yahudi di muka salib (Mat. 27:42, Mrk. 15:32), kata-kata Pilatus di depan orang Yahudi (Yoh. 19:14-15). Juga sejak kelahirannya, Yesus diramalkan sebagai seorang raja (Mat. 2:2,dan Luk.1:33). Tampaknya gelar raja Yesus itu lebih banyak dilihat dari sudut pandang duniawi. Yesus sendiri tidak menyangkal gelar itu walaupun tidak secara eksplisit mengiyakannya (Mat.27:11, Mrk. 15:2, Luk. 23:2-3). Namun gelar raja yang dimaksudkan itu ternyata dipahami berbeda yaitu tidak dalam arti duniawi (Yoh 18:33-39).
Pastor Agustinus Gianto, SJ memberikan salah satu alternatif penafsiran tentang hal tersebut dalam bukunya Dag-Dig-Dug Byaar. Menurut beliau, pemahaman tentang madah penciptaan Kej 1:1-2.4a dapat membantu. Dalam madah itu diungkapkan bahwa manusia merupakan puncak alam semesta . Tidak hanya itu, dalam diri manusia terdapat peta kehadiran Allah . Bahkan Allah memberi dia kuasa untuk menguasai bumi dan isinya. Inilah gambaran ideal manusia. Gambaran inilah yang diterapkan oleh Yohanes kepada Yesus yaitu merujuk Yesus sebagai sabda .
Maka jelas seperti apa kerajaan yang dimaksudkan oleh Yesus. Ia adalah raja dalam arti puncak ciptaan sendiri, kemanusiaan yang sejati seperti yang dikehendaki oleh Sang Pencipta .
Penutup
Dari penjelasan singkat di atas, tampak bahwa Yohanes memiliki pandangan yang berbeda dari para penginjil sinoptik mengenai Yesus sebagai Raja. Injil Yohanes memberikan tekanan yang besar pada Yesus sebagai raja yang kuat, jaya, hebat dan sempurna. Ia juga menekankan makna raja yang dimaksudkan oleh Yesus.
Perbedaan - perbedaan itu tidak hanya menyangkut tema ini saja, tetapi juga banyak tema-tema yang lain. Perbedaan itu memperkaya pemahaman kita tentang Yesus Kristus. Tidak hanya itu, keunikan Injil Yohanes ini juga membuat orang semakin tertarik mendalami Injil Yohanes.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar